Latest Post

Sholat Kok Kayak Burung

Sholat kok kayak burung. Mungkin sebagian akan bingung, dimana letak persamaan antara sholat dengan seekor burung?

Ya, sholat seseorang bisa seperti seekor burung. Seperti burung yang sedang mematuk-matuk makanannya. Naik turun dengan cepat kepalanya. Begitulah perumpaan orang yang sholat dengan begitu cepat. Terburu-buru sehingga tak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Sholat yang seperti ini, tentu saja tidak ada ketuma’ninahan di dalamnya.

Sebenarnya, Apa sih tuma’ninah itu??

Tuma’ninah adalah tenang dalam mengerjakan sholat. Tuma’ninah adalah dengan menyempurnakan setiap syarat, rukun, wajib dan sunnah-sunnah dalam sholat. Ruku’ dengan sebenar-benarnya ruku’, sujud dengan sebenar-benarnya sujud dan begitu seterusnya.

Sering kita melihat orang yang sholatnya begitu cepat. Dia berdiri dengan cepat, ruku’ dengan cepat, i’tidal dengan cepat dan seterusnya. Sampai kita berfikir, apa sih yang dibaca orang itu dalam sholatnya? Kok bisa begitu cepatnya ia menunaikan sholat?

Kawan, sholat adalah saat dimana kita menghadap Pencipta kita, Allah, Dzat yang dicintai oleh hati setiap mu’min. Adakah orang yang mencintai terburu-buru ketika menemui sang pujaan hatinya ? Tentu tidak. Orang yang mencintai akan senang berlama-lama dengan yang dicinta. Begitu pun seorang mu’min, dia akan berlama-lama ketika sholatnya, karena ia tahu, saat itulah dirinya sedang menghadap kepada yang paling ia cintai, Allah Sang Kholik.

Lebih dari itu, ada beberapa ancaman bagi orang yang sholatnya terlampau cepat. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seseorang yang sedang mengerjakan sholat, setelah selesai, orang tersebut menemui beliau dan mengucapkan salam kepada beliau. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tak menjawab salamnya dan malah menyuruh orang tersebut mengulang sholatnya. “Sholatlah kamu, karena sesungguhnya kamu belum sholat!” begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang tersebut. Kejadian ini terus berulang sampai orang tersebut megulang shalatnya 3 kali. Akhirnya orang tersebut menyerah dan meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, mengapa ia harus mengulang sholatnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika Anda hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagi Anda. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu” (HR Bukhari no. 757 dan Muslim no. 397 dari sahabat Abu Hurairah)

Lihatlah kawan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap belum sahnya shalat orang tersebut hanya karena ia begitu cepat mengerjakan shalat.

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986)

Betapa ruginya ketika kita shalat, beribadah kepada Allah, tapi ternyata kita digolongkan sebagai pencuri, sejahat pencuri pula, hanya karena kita kurang tenang (tuma’ninah) dalam mengerjakan shalat.

Maka, mulai sekarang, mari kita perbaiki kualitas shalat kita dengan menjaga ketenangan dalam shalat. Karena mulai dari sinilah, kita mencari kekhusyu’an dalam shalat. Adakah kehusyu’an dari shalat yang tergesa-gesa? Tentu jawabnya tidak akan ada. Ketenangan dalam shalat akan membawa kepada kekhusyu’an, dan kekhusyuan inilah yang akan membawa kita kepada golongan yang Allah puji dalam firmannya :
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ)١ ( ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى صَلَاتِہِمۡ خَـٰشِعُونَ)٢)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (QS Al-Mu’minun: 1-2)

 

 

Referensi:

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tumaninah-dalam-shalat-1.html

 

Ahad, 23 November 2014

Penulis: Zaid Abdul Aziz (Akuntansi UI, 2012)

In other news