Latest Post

Diuji Tidak Selalu Berarti Dibenci, Diberi Tidak Selalu Berarti Dicintai

Bismillaah

Diuji Tidak Selalu Berarti Dibenci, Diberi Tidak Selalu Berarti Dicintai

Wahai sobat, pernahkah kamu merasa hidupmu terasa amat sempit? atau mungkin kamu selalu merasa cita-cita yang dulu sudah kau rancang sempurna, kini hanya sebatas angan-angan yang tak akan pernah terwujud?

Ataukah kamu sering merasa “cemburu” terhadap orang-orang di luar sana yang bisa dengan bebas menikmati hidup, padahal kamu tahu keseharian mereka diliputi oleh barbagai macam keburukan-keburukan? Atau kamu merasa dunia ini tidak adil? Ketika kamu melihat orang-orang sholih di sekitarmu “merana” di tengah kehidupan dunia, sedangkan di sisi lain orang-orang kafir, orang-orang musyrik bahkan orang-orang fasiq bisa makan, minum dan hidup serba wah lagi mewah setiap harinya?

Tolak ukur rasa cinta dan benci Allah

Sobat.. Tak perlu lah kamu merasa cemburu lagi diburu sendu melihat mereka yang kamu tahu jauh dari kebenaran, bahkan membangkang dari syari’at Allah bisa seenaknya menikmati hidup bergelimang harta.

Ingatlah sobat. Nikmat dan ujian bukanlah tolak ukur seberapa jauh Allah mencintai ataupun membenci seorang hamba.

Bisa jadi nikmat itu adalah istidraj

Pernahkah kamu mendengar kata istidraj? Istidraj adalah keadaan dimana Allah sengaja memberikan kenikmatan pada orang-orang fasiq, fajir dan kafir dalam perkara dunia. Semakin mereka menjauh dari Allah, maka semakin banyak “nikmat” yang Allah beri untuk mereka. Semakin membangkang, maka semakin nampak bahagia kehidupan dunia mereka.

Namun tunggu saja. Allah sudah menyiapkan “kado spesial” bagi para pembangkang seperti mereka. Ya.. Dialah adzab yang sudah siap menanti mereka di akhirat kelak.

“Jika engkau melihat Allah memberi kepada hambaNya nikmat dunia yang dicintai jiwanya, padahal dia senantiasa bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj.” [1]

Ujian bukan berarti tanda bencinya Allah terhadap hamba

Namun di sisi lain, kenapa Allah terkadang menimpakan ujian kepada orang-orang yang berbuat ihsan? Orang-orang yang berbuat kebaikan? Apakah Allah tidak sayang pada mereka?

Sobat… Allah punya banyak cara untuk menampakkan kasih sayangNya pada hambaNya. Dan bentuk kasih sayang Allah tidak selalu berwujud nikmat. Terkadang Allah tunjukkan kasih serta sayangNya dalam wujud yang lain. Semisal dengan luputnya sesuatu atau seseorang yang disenangi hamba. Hidup yang serba kekurangan (menurut orang-orang yg dunia-oriented) bahkan tak jarang pula mereka mengalami kehilangan dalam masalah harta, pangan, anak bahkan cita-cita yang selalu mereka impikan.

Ujian adalah salah satu bentuk tanda cinta Allah

Terkadang Allah memberikan kita sebagai hambaNya berupa ujian agar kita mendapatkan derajat yang tinggi. Yaitu derajat yang dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah. Lho kok bisa?

”Tidaklah seorang mukmin tertusuk duri atau yang lebih kecil dari duri, melainkan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan.” [2]

Bahkan terkadang, ujian itu Allah tujukan agar dosa-dosa kita terhapuskan. Yang karenanya kita bisa berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikitpun.

”Tidaklah seorang Muslim ditimpa gangguan berupa penyakit dan lain-lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.” [3]

Jadi sobat.. Tetaplah berhusnudzon pada Allah. Sebab apa yang telah Allah taqdirkan untuk kita, bahkan untuk saudara-saudara muslim maupun muslimah kita dimanapun mereka berada, maka sesungguhnya hal tersebut merupakan bentuk rasa cinta dan kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Kisah teladan sang tercinta

Sebagai penutup, ingin rasanya hati ini menulis sekelumit kisah teladan dari orang tercinta. Orang yang senantiasa kita rindukan perjumpaannya. Orang yang sangat mencintai kita meskipun dia tidak pernah melihat kita. Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikut kisah tersebut.

Suatu hari ‘Umar bin Khattab berkunjung ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kala itu ‘Umar mendapati Nabi sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Saking kasarnya alas tidur Nabi, anyaman tikarnya membekas di pipi beliau. Meski begitu, tidak semua tubuh beliau beralas tikar, karena sebagiannya lagi beralas tanah. Bantal yang beliau gunakan pun pelepah kurma yang keras.

Melihat pemandangan tak seharusnya, kontan ‘Umar menangis. “Kenapa kamu menangis wahai ‘Umar?” tanya Rasulullah. “Bagaimana saya tidak menangis ya Rasulullah? Alas tidur itu telah menorehkan bekas di pipi Anda.
Anda ini Nabi.. sekaligus kekasih Allah. Mengapa kekayaan Anda hanya seperti yang saya lihat sekarang ini? Apa Anda tidak melihat bagaimana Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) duduk di atas singgasana emas dan berbantalkan sutra terindah?” jawab ‘Umar yang sekaligus balik bertanya.

Maka Rasulullah pun menjawab, “Wahai ‘Umar, tidakkah engkau ridho mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?”

Mereka ingin menghabiskan kenikmatan dan kesenangan sekarang ini. Padahal kenikmatan dan kesenangan itu cepat berakhir. Berbeda dengan kita. Kita lebih senang mendapat kenikmatan dan kesenangan itu untuk hari nanti.” [4]

Jangan bersedih dan berputus asa

Semoga kisah Rasulullah di atas mampu membangkitkan semangat serta menggembirakan hati sobat semua agar sobat selalu merasa ridho atas apa yang telah Allah tetapkan atas skenario hidup sobat selama ini. Selain itu, semoga dengan membacanya, maka sobat semua bisa semakin lebih bersabar, lebih ridho, lebih bersyukur, dan lebih bersemangat untuk menempuh jalan-jalan kebaikan yang tidak mudah.

Tetap semangat ya sobat. Teruslah berlari berlari ke Allah, dan janganlah pernah merasa lelah dalam menapaki jalan-jalan kebaikan.

Allahu yubaarik fiykum.

Diselesaikan di Rawamangun, 2 Februari 2015 M/ 12 Rabi’uts Tsani 1436 H

Saudarimu fiillaah,
Arista Citra R.
Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2010


Catatan kaki:
[1] HR. Ahmad, Ibnu Juraij, Ath-Thabrani, dan Ibnu Abi Hatim; diriwayatkan dari shahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu; hadis hasan; lihat Kanzul ‘Ammal, juz 11, hlm. 90
[2] HR. Muslim
[3] HR. Bukhari dan Muslim
[4] HR. Bukhari dan Muslim

(dengan beberapa perubahan tanpa mengubah makna)

In other news