Latest Post

Kesalahan Terhadap Adab Ketika Buang Air

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur hidup manusia dari seluruh aspeknya, ibadah, muamalat, akhlak dan yang lainnya. Diantara kesempurnaan islam, islam mengatur hal hal yang dianggap sepele bagi kebanyakan manusia, seperti buang hajat, adab makan dan minum, adab safar bahkan adab suami istri diatas ranjang.

Diantara hal yang dianggap sepele dan sering diacuhkan oleh kebanyakan orang adalah adab membuang hajat. Islam telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim membuang hajatnya dengan cara yang terbaik. Syariat ini turun dari Allah, pencipta manusia yang tentunya lebih paham tentang apa yang terbaik untuk mereka, bahkan dalam hal buang hajat sekalipun.

Tulisan ini akan mengulas beberapa kesalahan yang sering terjadi ditengah masyarakat kita, atau mungkin masih sering diremehkan oleh sebagian kaum muslimin dalam hal buang hajat.

1. Tidak menutup diri dari pandangan manusia

Sering kita dapati sebagian orang dengan ringannya buang hajat di tempat umum tanpa rasa malu sedikit pun. Padahal Nabi ketika membuang hajatnya, beliau selalu menjauh dari pandangan manusia.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَأْتِى الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يُرَى.

Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar, beliau tidak menunaikan hajatnya di daerah terbuka, namun beliau pergi ke tempat yang jauh sampai tidak nampak dan tidak terlihat.”[1]

Termasuk dalam hal ini adalah buang air kecil di urinior bagi laki-laki. Kita tahu kebanyakan urinior ditempatkan di tempat yang terbuka, meski berada di dalam ruangan toilet, yang tentu saja tidak dapat menjaga diri kita dari pandangan orang lain ketika buang air kecil. Apalagi desain urinior yang sangat layak secara syar’i karena kemungkinan terlihatnya aurat laki-laki ketika menggunakan urinior sangatlah besar. Belum lagi kemungkinan tercipratnya celana dengan najis ketika buang air kecil di tempat tersebut. Oleh karena itu, selama tidak terpaksa. Sebaiknya seorang muslim membuang hajatnya di wc yang tertutup dengan pintu, sehingga lebih terjaga dari pandangan manusia.

2. Tidak membersihkan diri dari najis.

Hal ini sering dilakukan oleh mereka yang buang air di tempat umum. cukup cari pohon di pinggir jalan, selesai langsung pergi tanpa mencuci kemaluan dari sisa najis yang keluar. Terdapat ancaman yang keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits diceritakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua kubur. Lalu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ” sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang diazdab, tidaklah mereka diazdab karena sesuatu yang besar. Adapun salah satunya dahulu ia tidak membersihkan diri dari kencingnya, adapun yang lain, dahulu ia suka mengadu domba ”

Perhatikanlah, bagaimana satu hal yang sepele, tidak membersihkan diri dari najis, bisa menjadi kesengsaraan di alam kubur sampai kiamat. Wal’iyaadzu billah.

3. Berbicara di dalam kamar mandi.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah bercerita, beliau berkata,

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.

Ada seseorang yang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang kencing. Ketika itu, orang tersebut mengucapkan salam, namun beliau tidak membalasnya

Dalam hadits diatas, kita paham bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menjawab salam ketika di dalam kamar mandi, padahal kita tahu bahwa hukum asal menjawab salam adalah wajib. Hal ini menunjukkan betapa terlarangnya berbicara di dalam kamar mandi, bahkan untuk menjawab salam sekalipun. Maka sangat disayangkan apa yang sering kita temui di tengah masyarakat kita, orang orang yang ngobrol ketika di kamar mandi, atau bahkan bernyanyi di dalamnya.

Inilah tiga hal yang penulis rasa merupakan kesalahan yang paling sering terjadi ditengah masyarakat kita. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi penulis sendiri dan kaum muslimin secara umum. Semoga Allah terus memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk terus menuntut ilmu agama.

Referensi
Syaikh Ali Bassaam, Taisirul ‘allam syarhul ‘umdatul ahkam.

http://rumaysho.com/1034-10-adab-ketika-buang-hajat.html

 

-Zaid Abdul Aziz-
Akuntansi UI 2012

In other news