Pelestarian Keanekaragaman Jenis Tumbuhan dalam Ajaran Islam

[ 2 ] Comments
Share

Berapa banyak jenis tumbuhan yang ada di seluruh dunia?

Mungkin untuk menjawabnya kita tidak tahu secara pasti, tetapi setidaknya terdapat kurang lebih 280.000 jenis tumbuhan tersebar di seluruh dunia. Lalu, timbul pertanyaan berikutnya, berapa banyak jenis yang jumlahnya melimpah dan jenis yang jumlahnya terancam punah? Pertanyaan kedua tersebut, jauh lebih sulit untuk dijawab dibandingkan dengan pertanyaan pertama. Akan tetapi,  melihat kenyataan yang ada,  diprediksi jumlah jenis tumbuhan yang terancam punah akan lebih banyak dibandingkan jumlah jenis tumbuhan yang masih melimpah.

Kita ambil beberapa contoh. Tingkat kerusakan hutan alam di Indonesia, yang menyimpan keanekaragaman tumbuhan paling tinggi, semakin memprihatinkan. Menurut data BAPPENAS (2003), luas kerusakannya mencapai 1/3 dari luas hutan seluruh Indonesia. Bahkan, Dr. Jatna Supriatna, pada beberapa bulan yang lalu, pernah menyatakan dalam salah satu seminarnya: Indonesia setiap detiknya kehilangan hutan seluas lapangan sepak bola! Bayangkan saja, Indonesia yang menduduki peringkat lima besar dalam hal keanekaragaman tumbuhan, yaitu memiliki 38.000 jenis (Supriatna, 2008) dan 55% merupakan jenis endemik (BAPPENAS, 2003), mengalami keterancaman yang luar biasa seperti itu. Jika kejadian tersebut dibiarkan begitu saja, prediksi bahwa jumlah jenis tumbuhan yang terancam punah akan lebih banyak dibandingkan jumlah jenis tumbuhan yang masih melimpah, semakin mendekati kenyataan.

Sebenarnya, prediksi di atas tidak akan menjadi kenyataan, jika kita selalu mengupayakan kegiatan pelestarian terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan. Memang, upaya konservasi telah banyak dilakukan oleh banyak orang. Namun, banyak yang masih belum menyadari bahwa ternyata agama Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip dasar mengenai pelestarian tersebut sejak lama.

Sejak 15 abad yang lalu, Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip dasar mengenai pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya tumbuhan. Namun, karena banyak yang melupakannya, prinsip-prinsip tersebut jarang diketahui masyarakat umum. Agama Islam pun menjadi seolah-olah tidak peduli dengan kegiatan pelestarian keanekaragaman tumbuhan. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dasar tersebut perlu segera kita ketahui dan pahami bersama, beberapanya akan disebutkan dalam tulisan kali ini.

Islam telah menyebutkan tentang adanya keberagaman jenis tumbuhan

 

Sebelum kita membicarakan ajaran Islam mengenai pelestarian terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, terlebih dahulu kita harus mengetahui bahwa ternyata Islam telah menjelaskan mengenai adanya keanekaragaman pada tumbuhan.  Al-Qur’an telah menerangkan kepada umat manusia bahwa tumbuhan  memiliki keanekaragaman, baik di tingkat jenis maupun genetik (Khafaqi dkk., 2006).  Selain itu, terdapat pula dalil ‘aqli yang sudah kita pelajari bersama mengenai hal tersebut.

Ditambah lagi, Allah juga telah menyuruh kita untuk memperhatikan perkembangan buah hingga matang, kemudian memanfaatkan buah yang matang tersebut.  Setelah itu, kita disuruh untuk menunaikan zakat dari hasil panen buah yang telah kita tanam.  Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tetumbuhan, maka Kami keluarkan dari tetumbuhan tersebut tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau tersebut butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulang, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.  Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya.  Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-An-’aam [6]: 99)

 

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tetumbuhan yang beraneka ragam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya).  Makanlah dari buahnya (yang beraneka ragam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An’aam [6]: 141).

Islam menganjurkan untuk menanam tumbuhan dan melarang untuk merusaknya

Secara khusus, Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang tetumbuhan dalam banyak ayat-Nya. Hal tersebut, karena Islam memandang bahwa tetumbuhan adalah sesuatu yang baik dan indah (al-Atsari, 2008). Salah satu dalilnya, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“ …Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu, dan suburlah, dan menumbuhkan tetumbuhan yang indah.” (QS. al-Hajj [22]: 5)

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang mengucapkan Subhanalloh al-Azhim wa bihamdih, maka akan ditanamkan baginya sebuah pohon di surga.” (HR. Tirmidzi: 3464, Abu Ya’la: 2233. Shohih).

Melihat Islam memandang baik tetumbuhan, maka tak heran Islam juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak menanam tumbuhan. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah seorang muslim menanam atau bercocok tanam, kemudian tanamannya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang ternak, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhori: 2152, Muslim: 2904).

Sebagai catatan, anjuran di atas tidak bertentangan dengan hadits yang mengisyaratkan larangan bercocok tanam, karena larangan tersebut berlaku apabila menanam dan bercocok tanam telah melampaui batas sehingga membuat seseorang lupa dari perkara agama (al-Atsari, 2008; lihat juga Fathul Bari syarah shohih Bukhori, 5/401).

Hadits berikutnya yang berkaitan dengan anjuran untuk menanam tumbuhan, adalah sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apabila telah datang hari kiamat, dan tangan salah seorang di antara kalian sedang memegang pohon kurma kecil, apabila ia mampu untuk tidak berdiri hingga menanam, maka tanamlah dahulu.” (HR. Ahmad 3/18, al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 479, at-Thoyalisi: 2068. Shohih).

Syaikh al-Albani mengomentari hadits di atas: “Sungguh tidak ada yang paling tegas dalam menunjukkan anjuran memakmurkan bumi daripada hadits di atas, karena di dalamnya terdapat anjuran yang sangat besar untuk memanfaatkan akhir kesempatan hidup di medan pertanian, dengan memberi manfaat kepada manusia setelah matinya. Dengan hal tersebut, pahalanya akan terus mengalir dan ditulis sebagai sedekah sampai hari kiamat.” (al-Atsari, 2008; lihat juga as-Shohihah 1/38).

Disamping itu, Islam juga menganjurkan umatnya untuk tidak menebang pohon secara sembarangan. Sesungguhnya, menebang pohon tanpa ada kebutuhan yang dibenarkan termasuk membuat kerusakan di muka bumi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan apabila dia berpaling (dari mukamu), dia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tetanaman serta binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. al-Baqoroh [2]: 205).

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa merusak tanaman adalah dengan membakar tanaman dan pohon yang berbuah yang dimiliki oleh kaum muslimin. Imam Ibnu Jarir ath-Thobari rohimahullah, memilih pendapat tersebut seraya mengatakan di dalam kitab tafsirnya, 2/317: “Ini adalah yang lebih mendekati dalam penafsiran makna ayat.” (al-Atsari, 2008; lihat juga al-Jami Li ahkam al-Qur’an 3/18 dan Tafsir Ibnu Katsir 1/247).

Hima’, konsep kawasan konservasi dalam Islam

Ajaran Islam juga menetapkan wilayah-wilayah yang khusus dilindungi untuk kelestarian makhluk hidup di dalamnya. Istilah khusus untuk kawasan yang dilindungi oleh pemerintah (Imam atau Khalifah) atas dasar syari’at guna melestarikan hidupan liar atau hutan disebut Hima’. Hima’  telah ditetapkan dari zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin, seperti Abu Bakar , Umar dan Utsman radhiyallahu anhum. Nabi melarang masyarakat mengolah tanah di kawasan Hima’ karena hanya digunakan untuk kemaslahatan umum dan kepentingan pelestariannya. Nabi bersabda: “ Tidak ada hima’ kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Saat ini, sejumlah hima’ yang telah ditetapkan di Arabia Barat ditumbuhi rumput sejak awal Islam. Daerah tersebut telah diakui oleh FAO sebagai contoh paling lama bertahan dalam pengelolaan padang rumput secara bijaksana di dunia (Mangunjaya, 2005).

Pengenalan tumbuhan yang bermanfaat dalam al-Qur’an dan Sunnah

Islam juga memiliki metode yang menarik untuk mendukung pelestarian terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, yaitu dengan menyebutkan jenis tetumbuhan yang bermanfaat dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Sebut saja,  Allium cepa (bawang merah), Allium sativum (bawang putih), Beta vulgaris (bit), Cucumis sativus (mentimun), Ficus carica (buah tin), Nigella sativa (jinten hitam), Ocimum basilicum (kemangi), Olea europaea (zaitun), Oryza sativa (padi), Phoenix dactylifera (kurma), Punica granatum (delima), Salvadora persica (kayu siwak), dan Zingiber officinale (jahe), merupakan beberapa jenis tumbuhan yang telah diabadikan namanya di dalam dua sumber utama umat Islam tersebut (lihat penjelasan dari Khafagi dkk., 2006; Sunardi, 2008; dan Marwat dkk., 2009). Tidak hanya disebutkan namanya saja, beberapa jenis tumbuhan di atas disebutkan pula manfaatnya secara khusus. Dengan mengetahui manfaat dari suatu tumbuhan, kemungkinan besar masyarakat akan lebih menjaga keberadaannya.

Menurut penelitian LIPI, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan 950 jenis tumbuhan liar sebagai bahan obat tradisional atau moderen. Selain itu, tidak kurang 100 jenis kekacangan, 100 jenis tumbuhan penghasil karbohidrat, 450 jenis buah, dan 250 jenis sayuran termasuk jamur, telah menjadi menu masyarakat (Mangunjaya, 2005). Melihat masih sedikitnya jumlah jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat, perlu kiranya para ahli konservasi dan mahasiswa Biologi untuk lebih menggali dan mengenalkan berbagai manfaat tumbuhan kepada masyarakat. Dengan menerapkan metode tersebut, diharapkan upaya pelestarian keanekaragaman tumbuhan mendapat respon lebih positif dari masyarakat. Hal demikian dapat terjadi, karena yang diupayakan adalah melestarikan kelangsungan pemanfaatannya, bukan hanya melestarikan demi pelestariannya semata-mata (Rifa’i, 1995).

Penutup

 

Islam mengajarkan bahwa pelestarian terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan, merupakan bentuk amaliah kebaikan dan ibadah di sisi Allah. Selain itu, Islam juga telah menjelaskan manfaat-manfaat tumbuhan bagi manusia dan makhluk hidup yang lain secara langsung. Sudah saatnya bagi umat Islam Indonesia, sebagai salah satu negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, menjadi penggerak utama dalam upaya pelestarian keanekaragaman jenis tumbuhan. Mari kita sama-sama amalkan ajaran Islam yang Rahmatan lil alamin tersebut. Wallahu a’lam.

Bahan Bacaan:

al-Atsari, A. A. 2008. Islam cinta lingkungan. al-Furqon 7(9): 47–51

BAPPENAS (=Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020. 2003.01

Khafagi, I., A. Zakaria, A. Dewedar, & K. El-Zahdany.  A voyage in the world of plants as  mentioned in the Holy Qur’an. International Journal of Botany 2(3): 242–251.

Mangunjaya, F. M. 2005. Konservasi alam dalam Islam. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xxiii + 142 hlm.

Marwat, S. K., M. A. Khan, M. A. Khan, M. Ahmad, M. Zafar, F. Ur-Rehman & S. Sultana. 2009.   Vegetables mentioned in the Holy Qur’an and Ahadith and their ethnomedical studies in Dera Ismail Khan, N.W.F.P., Pakistan. Pakistan journal of nutrition 8(5): 530–538

Rifa’i, M. A. 1995. Ut taxonomiam defendamus. Pidato pengukuhan Guru Besar Luar Biasa. FMIPA-UI, Depok: 57 hlm

Supriatna, J. 2008. Melestarikan alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xx + 482 hlm.

Sunardi. 2008. Pilih resep Nabi atau resep dokter? Aqwamedika, Solo: xi + 126 hlm.

Penulis: Muhammad Muhaimin
Biologi UI – 2009
Sunday, 12 February 2012

Artikel www.mahasiswamuslim.com

Share

2 Responses to Pelestarian Keanekaragaman Jenis Tumbuhan dalam Ajaran Islam

  1. Sagi says:

    Subhanallah artikelnya bagus.. izin copy, boleh kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>